KESEHATAN & FARMASI

Advanced Glycation End Products (AGEs): Mengapa Gula Berlebih Mempercepat Penuaan?

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
July 04, 2026 5 min read
Advanced Glycation End Products (AGEs): Mengapa Gula Berlebih Mempercepat Penuaan?
Photo by Unsplash

"Advanced Glycation End Products (AGEs) merupakan senyawa yang terbentuk akibat kadar gula darah tinggi dan berperan dalam proses penuaan dini serta be..."

Advanced Glycation End Products (AGEs): Mengapa Gula Berlebih Mempercepat Penuaan?

      Pada artikel-artikel sebelumnya kita telah membahas bahwa lonjakan glukosa (glucose spike) yang terlalu tinggi dan berlangsung berulang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, diabetes melitus tipe 2, serta berbagai penyakit metabolik. Namun, dampak kadar gula darah yang tinggi ternyata tidak berhenti sampai di sana. Dalam tubuh, kelebihan glukosa dapat memicu terbentuknya senyawa yang dikenal sebagai AGEs. Senyawa ini berperan penting dalam proses penuaan biologis (biological aging) dan berbagai komplikasi penyakit kronis.

      Belakangan ini, istilah AGEs semakin banyak dibahas dalam penelitian kedokteran karena berkaitan dengan keriput pada kulit, kekakuan pembuluh darah, penyakit ginjal kronik, retinopati diabetik, neuropati, hingga penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer. Tidak mengherankan jika AGEs sering disebut sebagai salah satu "jejak molekuler" dari paparan gula darah tinggi yang berlangsung lama.

      Lalu, apakah gula benar-benar dapat mempercepat proses penuaan? Jawabannya tidak sesederhana itu. Tubuh memang secara alami membentuk AGEs sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Akan tetapi, pembentukan AGEs meningkat secara signifikan pada kondisi hiperglikemia kronik, lonjakan glukosa yang berulang, penuaan, serta paparan makanan tertentu yang kaya AGEs. Oleh karena itu, memahami mekanisme pembentukan AGEs menjadi penting, tidak hanya bagi penderita diabetes, tetapi juga bagi setiap orang yang ingin menjaga kesehatan jangka panjang.

Apa Itu Advanced Glycation End Products (AGEs)?

      AGEs adalah kelompok senyawa kompleks yang terbentuk melalui reaksi glikasi non-enzimatik, yaitu reaksi spontan antara gula pereduksi, seperti glukosa atau fruktosa, dengan protein, lipid, atau asam nukleat. Reaksi ini berlangsung tanpa bantuan enzim dan terjadi secara perlahan selama bertahun-tahun. Semakin lama seseorang terpapar kadar glukosa yang tinggi, semakin besar pula kemungkinan terjadinya akumulasi AGEs di berbagai jaringan tubuh.

      AGEs berbeda dengan glukosa itu sendiri. Glukosa merupakan molekul penting yang dibutuhkan sebagai sumber energi, sedangkan AGEs merupakan hasil akhir dari proses kimia yang dapat mengubah struktur dan fungsi biomolekul. Akumulasi AGEs menyebabkan protein menjadi lebih kaku, kurang elastis, dan kehilangan fungsi biologisnya. Kondisi inilah yang kemudian berkontribusi terhadap proses penuaan serta berbagai penyakit degeneratif. Dalam dunia kedokteran, AGEs menjadi perhatian karena tidak hanya menyebabkan kerusakan secara langsung melalui perubahan struktur protein (cross-linking), tetapi juga mampu mengaktifkan berbagai jalur inflamasi dan stres oksidatif yang memperburuk kerusakan jaringan.

Perbedaan Glikasi dan Glikosilasi

      Mahasiswa kesehatan sering kali menggunakan istilah glikasi dan glikosilasi secara bergantian, padahal keduanya merupakan proses yang sangat berbeda.

image.png 172.4 KB
      Perbedaan ini sangat penting dipahami karena glikosilasi merupakan proses fisiologis yang diperlukan tubuh, misalnya dalam pembentukan antibodi, reseptor membran, hormon, dan berbagai protein fungsional lainnya. Sebaliknya, glikasi merupakan proses kimia spontan yang cenderung meningkat ketika kadar glukosa darah tinggi dan berlangsung dalam waktu lama.

      Contoh paling dikenal dalam praktik klinis adalah pemeriksaan HbA1c (Hemoglobin A1c). Nilai HbA1c sebenarnya merupakan hasil dari glikasi hemoglobin, bukan glikosilasi. Semakin tinggi kadar glukosa darah selama sekitar 2–3 bulan terakhir, semakin banyak hemoglobin yang mengalami glikasi. Oleh karena itu, HbA1c digunakan sebagai indikator penting untuk menilai kontrol glikemik pada penderita diabetes. Memahami perbedaan antara glikasi dan glikosilasi akan membantu kita memahami mengapa kadar gula darah yang tinggi tidak hanya meningkatkan risiko diabetes, tetapi juga memengaruhi struktur protein tubuh, mempercepat proses penuaan, dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis melalui pembentukan AGEs.

Bagaimana Advanced Glycation End Products (AGEs) Terbentuk?

      Pembentukan AGEs merupakan proses kimia yang berlangsung secara bertahap dan terjadi tanpa bantuan enzim. Proses ini dikenal sebagai reaksi Maillard, yaitu reaksi yang sama yang menyebabkan makanan menjadi kecokelatan saat dipanggang. Di dalam tubuh, reaksi tersebut berlangsung jauh lebih lambat, tetapi dapat menyebabkan perubahan permanen pada berbagai molekul penting.

      Tahap pertama dimulai ketika kadar glukosa dalam darah meningkat. Sebagian molekul glukosa akan berikatan secara spontan dengan gugus amino pada protein, lipid, atau asam nukleat sehingga terbentuk basa Schiff (Schiff base). Ikatan ini masih bersifat tidak stabil dan dapat kembali seperti semula apabila kadar glukosa segera menurun.

      Selanjutnya, basa Schiff mengalami penataan ulang molekul (Amadori rearrangement) dan membentuk produk Amadori yang lebih stabil. Salah satu contoh produk Amadori yang paling dikenal adalah HbA1c, yaitu hemoglobin yang mengalami glikasi dan digunakan sebagai indikator rata-rata kadar glukosa darah selama sekitar 2–3 bulan terakhir pada penderita diabetes. Apabila kadar glukosa tetap tinggi dalam waktu lama, produk Amadori akan mengalami serangkaian reaksi oksidasi, dehidrasi, dan kondensasi yang kompleks hingga akhirnya terbentuk AGEs. Berbeda dengan tahap awal glikasi, AGEs umumnya bersifat stabil, sulit dihilangkan, dan dapat menumpuk pada jaringan yang memiliki pergantian protein lambat, seperti kolagen pada kulit, pembuluh darah, tendon, dan lensa mata.

Mengapa Kadar Gula Tinggi Mempercepat Pembentukan AGEs?

      Dalam kondisi normal, pembentukan AGEs berlangsung perlahan sebagai bagian dari proses penuaan alami. Namun, pada individu dengan hiperglikemia kronik, seperti penderita diabetes melitus yang kadar gula darahnya tidak terkontrol, proses tersebut berlangsung jauh lebih cepat. Selain hiperglikemia kronik, lonjakan glukosa (glucose spike) yang terjadi berulang juga meningkatkan peluang glukosa bereaksi dengan protein tubuh. Semakin sering kadar glukosa berada di atas kisaran normal, semakin besar kemungkinan terbentuknya produk glikasi yang akhirnya berkembang menjadi AGEs. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa pengendalian kadar glukosa tidak hanya bertujuan mencegah diabetes, tetapi juga mengurangi kerusakan jaringan dalam jangka panjang.

      Pembentukan AGEs juga dipercepat oleh stres oksidatif, yaitu kondisi ketika produksi Reactive Oxygen Species (ROS) melebihi kemampuan sistem antioksidan tubuh. ROS mempercepat perubahan produk Amadori menjadi AGEs dan, sebaliknya, AGEs sendiri dapat meningkatkan pembentukan ROS. Terjadi suatu lingkaran setan (vicious cycle) di mana hiperglikemia meningkatkan stres oksidatif, stres oksidatif mempercepat pembentukan AGEs, dan AGEs kembali memperburuk stres oksidatif serta inflamasi. Kalau digambarkan secara singkat adalah:

Hiperglikemia → Basa Schiff → Produk Amadori (HbA1c) → AGEs → Cross-linking protein + Aktivasi RAGE → ROS ↑ → Inflamasi kronik → Kerusakan organ (kulit, pembuluh darah, retina, ginjal, saraf).

Apa yang Dilakukan AGEs pada Tubuh?

      Akumulasi AGEs tidak hanya mengubah struktur protein, tetapi juga mengganggu fungsi berbagai organ tubuh melalui beberapa mekanisme penting.

1.   Merusak Kolagen dan Mempercepat Penuaan Kulit

Kolagen merupakan protein struktural utama yang memberikan kekuatan dan elastisitas pada kulit, pembuluh darah, tulang, serta jaringan ikat lainnya. AGEs membentuk ikatan silang (cross-linking) antarserabut kolagen sehingga kolagen menjadi lebih kaku, kurang elastis, dan lebih sulit diperbaiki oleh tubuh. Akibatnya, kulit kehilangan elastisitasnya lebih cepat sehingga muncul keriput, kulit menjadi lebih kering, dan proses penyembuhan luka berlangsung lebih lambat. Fenomena ini merupakan salah satu alasan mengapa penderita diabetes yang tidak terkontrol sering mengalami proses penyembuhan luka yang lebih lama dibandingkan individu sehat.

2.   Merusak Pembuluh Darah

AGEs juga berikatan dengan protein pada dinding pembuluh darah, terutama kolagen dan elastin. Ikatan silang tersebut menyebabkan pembuluh darah menjadi lebih kaku dan kehilangan kemampuan untuk berelaksasi secara normal. Selain itu, AGEs merusak fungsi sel endotel, yaitu lapisan sel yang melapisi bagian dalam pembuluh darah. Disfungsi endotel menyebabkan berkurangnya produksi nitric oxide (NO), suatu molekul yang berperan penting dalam melebarkan pembuluh darah. Akibatnya, risiko aterosklerosis, hipertensi, penyakit jantung koroner, dan stroke meningkat seiring bertambahnya akumulasi AGEs.

3.   Mempercepat Komplikasi Diabetes

Salah satu alasan utama mengapa pengendalian kadar gula darah sangat penting pada diabetes adalah untuk mengurangi pembentukan AGEs. Akumulasi AGEs berperan besar dalam berbagai komplikasi kronik diabetes, baik mikrovaskular maupun makrovaskular.

      Pada mata, AGEs berkontribusi terhadap retinopati diabetik melalui kerusakan pembuluh darah retina. Pada ginjal, AGEs menyebabkan penebalan membran basal glomerulus dan fibrosis sehingga mempercepat terjadinya nefropati diabetik. Pada sistem saraf, AGEs merusak pembuluh darah kecil dan jaringan saraf sehingga meningkatkan risiko neuropati diabetik, yang ditandai dengan kesemutan, baal, hingga nyeri kronik pada ekstremitas.

      Dengan demikian, AGEs tidak hanya merupakan penanda paparan gula darah yang tinggi, tetapi juga merupakan salah satu penyebab aktif terjadinya kerusakan jaringan pada diabetes. Inilah alasan mengapa berbagai penelitian saat ini berupaya mencari strategi untuk mengurangi pembentukan AGEs sebagai bagian dari pencegahan komplikasi penyakit metabolik.

Apa Itu RAGE (Receptor for Advanced Glycation End Products)?

      Kerusakan yang ditimbulkan oleh AGEs tidak hanya terjadi karena AGEs mengubah struktur protein melalui pembentukan ikatan silang (cross-linking). AGEs juga mampu mengaktifkan suatu reseptor khusus yang disebut RAGE. RAGE merupakan protein reseptor yang terdapat pada berbagai jenis sel, antara lain sel endotel pembuluh darah, makrofag, monosit, sel otot polos vaskular, neuron, mikroglia, serta berbagai sel sistem imun. Ketika AGEs berikatan dengan RAGE, reseptor ini akan mengaktifkan berbagai jalur pensinyalan intraseluler yang memicu produksi mediator inflamasi dan radikal bebas.

      Salah satu jalur yang paling penting adalah aktivasi Nuclear Factor-kappa B (NF-κB), yaitu faktor transkripsi yang mengatur ekspresi berbagai gen proinflamasi. Aktivasi NF-κB meningkatkan produksi sitokin seperti Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α), Interleukin-1β (IL-1β), dan Interleukin-6 (IL-6). Akibatnya, terjadi inflamasi yang berlangsung terus-menerus meskipun tidak terdapat infeksi. Kondisi ini dikenal sebagai inflamasi kronik derajat rendah (chronic low-grade inflammation), yang kini diakui sebagai salah satu mekanisme utama berbagai penyakit metabolik dan degeneratif.

AGEs, Inflamasi Kronik, dan Stres Oksidatif

      Ikatan antara AGEs dan RAGE tidak hanya meningkatkan inflamasi, tetapi juga mempercepat pembentukan ROS atau radikal bebas. Peningkatan ROS menyebabkan stres oksidatif, yaitu keadaan ketika produksi radikal bebas melebihi kemampuan sistem antioksidan tubuh untuk menetralisirnya.

Menariknya, hubungan antara AGEs dan stres oksidatif bersifat dua arah. Hiperglikemia meningkatkan pembentukan ROS sehingga mempercepat terbentuknya AGEs. Sebaliknya, AGEs yang telah terbentuk kembali meningkatkan produksi ROS melalui aktivasi RAGE. Terbentuklah suatu lingkaran setan (vicious cycle) yang menyebabkan kerusakan sel semakin berat apabila kadar glukosa darah tidak terkendali.

      Stres oksidatif yang berlangsung lama dapat merusak membran sel, protein, lipid, dan DNA, serta mengganggu fungsi mitokondria sebagai pusat produksi energi sel. Oleh karena itu, AGEs tidak hanya berperan pada komplikasi diabetes, tetapi juga berkontribusi terhadap proses penuaan biologis dan berbagai penyakit kronis lainnya.

Hubungan AGEs dengan Penyakit Neurodegeneratif

      Dalam dua dekade terakhir, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa AGEs juga berperan dalam perkembangan penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer dan Parkinson. Pada otak, akumulasi AGEs ditemukan pada plak β-amiloid dan kusut protein tau yang merupakan ciri khas penyakit Alzheimer.

      Ikatan AGEs dengan RAGE pada sel mikroglia dan neuron memicu aktivasi inflamasi serta meningkatkan stres oksidatif di jaringan saraf. Kondisi tersebut diduga mempercepat kerusakan neuron dan berkontribusi terhadap penurunan fungsi kognitif. Pada penyakit Parkinson, AGEs juga diduga berperan dalam mempercepat agregasi protein α-sinuklein dan kematian neuron dopaminergik. Meskipun mekanisme ini masih terus diteliti, bukti ilmiah menunjukkan bahwa pengendalian kadar glukosa darah dan penurunan akumulasi AGEs berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan otak dalam jangka panjang.

Dari Mana AGEs Berasal?

      AGEs dalam tubuh berasal dari dua sumber utama, yaitu pembentukan di dalam tubuh (endogen) dan asupan dari makanan (eksogen). AGEs endogen terbentuk secara alami sebagai hasil proses glikasi non-enzimatik. Pembentukannya meningkat pada kondisi hiperglikemia kronik, lonjakan glukosa yang berulang, penuaan, stres oksidatif, gangguan fungsi ginjal, serta kebiasaan merokok.

      Sebaliknya, AGEs eksogen berasal dari makanan yang telah mengalami pemanasan pada suhu tinggi, terutama melalui proses memanggang, membakar, menggoreng, atau barbeque. Makanan dengan kandungan protein dan lemak tinggi lebih mudah membentuk AGEs selama proses pemasakan dibandingkan makanan yang dimasak menggunakan air, seperti direbus atau dikukus. Berikut beberapa contoh makanan berdasarkan kandungan AGEs secara umum.

image.png 73.59 KB
      Perlu dipahami bahwa tabel di atas merupakan gambaran umum. Kandungan AGEs suatu makanan dipengaruhi oleh suhu, lama pemasakan, kadar air, jenis bahan pangan, serta teknik memasak yang digunakan. Oleh karena itu, memilih metode memasak yang lebih lembut, seperti merebus, mengukus, atau slow cooking, dapat menjadi salah satu strategi sederhana untuk membantu mengurangi paparan AGEs dari makanan.

Bagaimana Cara Mengurangi Pembentukan AGEs?

      Pembentukan AGEs merupakan bagian dari proses metabolisme normal dan tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Seiring bertambahnya usia, AGEs akan tetap terbentuk dalam jumlah tertentu. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa akumulasi AGEs dapat diperlambat melalui pengendalian kadar glukosa darah, pola makan yang sehat, dan gaya hidup yang baik.

1.   Menjaga Kadar Gula Darah Tetap Terkendali

Cara paling efektif untuk mengurangi pembentukan AGEs adalah menjaga kadar glukosa darah tetap berada dalam kisaran normal. Pada penderita diabetes, pengendalian glukosa yang baik terbukti menurunkan risiko komplikasi mikrovaskular maupun makrovaskular karena mengurangi pembentukan AGEs. Pada individu tanpa diabetes, menghindari lonjakan glukosa (glucose spike) yang terlalu tinggi dan berulang juga dapat membantu memperlambat proses glikasi.

2.   Perbanyak Konsumsi Sayur, Buah, dan Makanan Kaya Antioksidan

Sayuran, buah utuh, kacang-kacangan, dan biji-bijian mengandung berbagai antioksidan, seperti vitamin C, vitamin E, karotenoid, flavonoid, dan polifenol. Senyawa-senyawa tersebut membantu menetralkan ROS sehingga dapat mengurangi stres oksidatif yang mempercepat pembentukan AGEs. Meskipun demikian, antioksidan bukanlah "penawar" AGEs, melainkan bagian dari pola makan sehat yang mendukung keseimbangan metabolisme.

3.   Pilih Metode Memasak yang Lebih Sehat

Cara memasak juga memengaruhi jumlah AGEs yang terbentuk dalam makanan. Memasak dengan suhu tinggi dan kondisi kering, seperti menggoreng, memanggang, atau barbeque, cenderung menghasilkan AGEs lebih banyak dibandingkan metode yang menggunakan air, seperti merebus, mengukus, atau membuat sup. Oleh karena itu, mengganti sebagian metode memasak dengan teknik yang lebih lembut dapat membantu mengurangi paparan AGEs dari makanan.

4.   Berhenti Merokok

Asap rokok mengandung berbagai senyawa oksidatif yang meningkatkan pembentukan AGEs dan memperberat stres oksidatif. Berhenti merokok tidak hanya menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kanker, tetapi juga membantu memperlambat akumulasi AGEs pada berbagai jaringan tubuh.

5.   Lakukan Aktivitas Fisik Secara Teratur

Olahraga teratur meningkatkan sensitivitas insulin, membantu mengendalikan kadar glukosa darah, dan mengurangi stres oksidatif. Dengan demikian, aktivitas fisik merupakan salah satu strategi penting untuk menekan pembentukan AGEs sekaligus mencegah komplikasi metabolik dalam jangka panjang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1.     Apakah gula merah lebih aman daripada gula pasir?
Gula merah mengandung sejumlah mineral dalam jumlah kecil, tetapi tetap merupakan sumber gula. Konsumsinya tetap perlu dibatasi.

2.     Apakah madu menyebabkan pembentukan AGEs?
Madu mengandung senyawa bioaktif, tetapi juga mengandung glukosa dan fruktosa. Konsumsi berlebihan tetap dapat meningkatkan proses glikasi.

3.     Apakah kopi meningkatkan AGEs?
Kopi tanpa gula tidak terbukti secara langsung meningkatkan pembentukan AGEs. Namun, penambahan gula berlebih dan krimer tinggi gula dapat meningkatkan paparan glukosa.

4.     Apakah saya perlu mengonsumsi suplemen antioksidan?
Sebagian besar orang dapat memenuhi kebutuhan antioksidan melalui pola makan yang kaya sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Penggunaan suplemen sebaiknya berdasarkan indikasi medis.

5.     Apakah AGEs dapat diperiksa di laboratorium?
Beberapa metode penelitian dapat mengukur AGEs, tetapi pemeriksaan tersebut belum menjadi pemeriksaan rutin dalam praktik klinis sehari-hari.

6.     Apakah semua keriput disebabkan oleh AGEs?
Tidak. Keriput dipengaruhi oleh usia, paparan sinar ultraviolet, faktor genetik, merokok, status hormonal, dan gaya hidup. AGEs merupakan salah satu faktor yang berkontribusi.

7.     Apakah olahraga dapat mengurangi AGEs?
Olahraga tidak secara langsung menghilangkan AGEs yang telah terbentuk, tetapi membantu mengendalikan kadar glukosa, meningkatkan sensitivitas insulin, dan mengurangi stres oksidatif sehingga pembentukan AGEs baru dapat diperlambat.

Kesimpulan

      AGEs merupakan produk akhir glikasi non-enzimatik yang terbentuk secara alami, tetapi pembentukannya meningkat pada kondisi hiperglikemia kronik, lonjakan glukosa yang berulang, serta stres oksidatif. Akumulasi AGEs menyebabkan perubahan struktur protein, mengaktifkan reseptor RAGE, meningkatkan inflamasi kronik dan stres oksidatif, serta berkontribusi terhadap komplikasi diabetes, penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, gangguan saraf, hingga proses penuaan biologis.

      Meskipun pembentukan AGEs tidak dapat dicegah sepenuhnya, akumulasinya dapat diperlambat melalui pengendalian kadar glukosa darah, konsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya antioksidan, pemilihan metode memasak yang lebih sehat, aktivitas fisik teratur, dan penghentian kebiasaan merokok. Dengan memahami mekanisme pembentukan AGEs, kita tidak hanya lebih mampu mencegah komplikasi diabetes, tetapi juga menjaga kesehatan metabolik dan kualitas hidup dalam jangka panjang. Pada akhirnya, menjaga kesehatan bukan hanya tentang menghindari gula, tetapi juga memahami bagaimana tubuh memproses glukosa dan bagaimana pilihan gaya hidup sehari-hari memengaruhi kesehatan sel, jaringan, dan organ selama bertahun-tahun.

Baca artikel lain: 

1.     Dampak Negatif Lonjakan Glukosa: Tidak Hanya Berisiko Diabetes

2.     Bagaimana Cara mendatarkan Lonjakan Glukosa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

3.     Benarkah Semua Karbohidrat Menyebabkan Lonjakan Gula Darah?

4.     Indeks Glikemik vs Beban Glikemik: Mana yang Lebih Penting?

Daftar Pustaka 

1.     Cerami A. Hypothesis: glucose as a mediator of aging. J Am Geriatr Soc. 1985;33(9):626–634. 

2.     Vlassara H, Uribarri J. Advanced glycation end products (AGE) and diabetes: cause, effect, or both? Curr Diab Rep. 2014;14(1):453. 

3.     American Diabetes Association Professional Practice Committee. Standards of Care in Diabetes—2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S1–S350. 

4.     Diabetes Care. Artikel-artikel peer-reviewed mengenai advanced glycation end products (AGEs), hiperglikemia, dan komplikasi diabetes. 

5.     Nature Reviews Endocrinology. Artikel ulasan mengenai mekanisme molekuler hiperglikemia, AGEs, inflamasi, dan penyakit metabolik. 

6.     Free Radical Biology and Medicine. Artikel ulasan mengenai advanced glycation end products (AGEs), receptor for advanced glycation end products (RAGE), stres oksidatif, dan penuaan. 

7.     Am J Clin Nutr. Artikel-artikel peer-reviewed mengenai dietary advanced glycation end products (dietary AGEs) dan dampaknya terhadap kesehatan metabolik. 

8.     World Health Organization. Healthy diet. Geneva: World Health Organization; versi terbaru. 

9.     World Health Organization. Diabetes. Fact sheet. Geneva: World Health Organization; versi terbaru.